Tunggulah

Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya, kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu, kan?

Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu. Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.

Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, menahan diri, dan mengisi waktu dengan hal-hal baik selama menunggu.

Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.

Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

-Kurniawan Gunadi

Advertisements

Tentang Menyampaikan

Suatu ketika ada yang nanya sama kita, kalo begini gak papa kan ya? Sepengetahuan dan sepemahaman kita itu adalah persoalan yang salah. Pas disampein ke si penanya, kata ‘si itu’ boleh lho. Duh, ‘si itu’ seperguruan sama kita lagi. Yang seperguruan saja belum tentu punya pemahaman yang sama apalagi yang lain perguruan.

Nah di sinilah tugas kita ngebenerin yang salah, ngelurusin yang bengkok. The art of ngebenerin or ngelurusin tanpa menjudge pemahaman-yang-masih-salah-nya orang lain. Bukan karena si itu salah lantas kita mengumpat dengan seenaknya. Ada cara-cara terpuji yang tentu tak kita dapat saat pendidikan formal kemarin dulu. Menyampaikan kebenaran tanpa kesan menggurui. Menyampaikan kebenaran dengan kebaikan setulus hati.

Habiskan air minummu

Sedih ngeliatnya. Gelas gelas air mineral itu hanya disentuh sekali teguk, lalu dibiarkan begitu saja. Makin sedih kala ngeliat nggak cuma seorang yang melakukan hal itu. Ada banyak gelas-gelas air mineral yang ditinggalkan oleh si penegak dengan sisa air yang bahkan lebih dari setengah isi gelas plastik. Lebih jengkel lagi kalo memergoki orang yang tak menegak habis tadi mengambil kembali air mineral baru, menegaknya, lalu kembali meninggalkan sisa air mineral dalam gelas yang baru diminumnya.

Huft. In my opinion, that was a BIG bad habit. Itu baru air mineral gelas plastik, belum yang botol. Dugaan saya, orang yang mengonsumsi air mineral botol cenderung akan tidak menghabiskan daripada orang yang mengonsumsi air mineral gelas. Walaupun belum diuji statistik dengan tingkat kepercayaan sekian persen tapi saya yakin dugaan saya itu tidak salah >,<

Coba bayangkan, berapa liter air minum yang bisa dikumpulkan dari akumulatif sisa sisa air mineral tadi. Sayang banget kan? Di saat kita membuang-buang air dengan seenaknya, ada saudara kita di bagian Indonesia lain sana sedang kesusahan mencari air.

Saya jadi ingat kenapa dulu bapak saya sering menegur kami yang suka tidak menghabiskan air dalam gelas yang kami pakai. Kata beliau, ambillah sesuai perkiraan yang akan kami minum. Kalo toh kebanyakan, jangan tinggalkan gelas itu begitu saja. Ambil tutup gelas untuk menjaga air dalam gelas yang tak kuat kami habiskan itu. Dulu sempat sebel sih, kenapa yang kayak gitu aja nyampek diurusin dan jadi perhatian. Ternyata pelajaran berharga dari bapak saya ini menjadikan kebiasaan baik bagi kami. Tapi efek sampingnya ya jadi sebel ngeliat orang lain suka nggak ngabisin air minum mereka. Sebelnya dipendem dalam ati lagi, karena lebih milih diem daripada negur orang itu, takut tersinggung. Serba salah kan..

Mungkin sebagai alternatif untuk acara-acara yang menggunakan gelas-gelas air mineral bisa mulai diganti dengan penggunaan galon isi ulang. Cara ini lebih ribet sih, tapi sebagai upaya menjaga ketersediaan air minum (tsahh) juga upaya mengurangi penggunaan plastik, alternatif ini perlu lah mulai digalakkan. Dulu waktu masih jadi mahasiswa, ketika saya dan teman-teman mengadakan suatu kegiatan,  kami pake galon isi ulang. Ternyata kami merasakan efek positif lainnya yaitu lebih murah, hehehe bener-bener mahasiswa efektif dan efisien dah.

Nah ayo mulai sekarang yang masih suka menyisakan air mineralnya, mulai diubah kebiasaannya. Semoga langkah-langkah kecil yang kita lakukan bisa bermanfaat ya 🙂

mitsaqan ghaliza

Al Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghaliza, yang merupakan nama dari perjanjian yang paling kuat di hadapan Allah. Hanya 3 kali Al Qur’an menyebut, hanya untuk 3 perjanjian. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para nabi ulul azmi, nabi yang paling utama diantara para nabi. Dan pernikahan termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan ghalizha. Allah menjadi saksi ketika seseorang melakukan akad nikah. Wallahua’lam bishawab.

Jarak

“Seringkali kita menyalahkan jarak
Padahal ia telah mengajarkan banyak
Mengenalkan pada sabar yang tak berbatas
Mengingatkan pada syukur atas luasnya lahan pembelajaran
Menghindarkan dari pertengkaran
Menghadiahkan bahagia pada tiap perjumpaan”