Tilang

Bapak, aku tadi kena tilang..

Kurang sedekah kamu mbak..

Satu kalimat dari bapak yang buat speechless untuk sekian detik kemudian. Jawaban di luar ekspektasi. Berharap respon, kok bisa? Dimana kena tilangnya? Sidang apa bayar di tempat? Diminta bayar berapa? Ya, walau pada akhirnya respon yang diharapkan itu ditanyakan juga.

Lalu saya coba ingat-ingat, kapan terakhir kali saya sedekah? Nampaknya sudah lama sekali sampai saya tak bisa mengingatnya. Sedekah itu memang harus diagendakan. Bukan melakukan ketika ada kesempatan, tapi mencari kesempatan untuk melakukan.

Ah, bapak… Jadi rindu…

Advertisements

Ephemera

Terima kasih untuk kisah -tanpa tatap apalagi temu- yang pernah berjalan. Atas semangat yang pernah menyublim dalam langkah. Juga untuk inspirasi yang teramat besar yang aku tak tahu cara kerjanya.

Entah bagaimana cerita ini akan berlanjut, untuk kali ini, aku tidak berani berharap apa-apa. Biar Tuhan yang menulis. Karena berharap pada manusia hanya akan membuat kecewa.

-Ahimsa Azaleav

Kebetulan-kebetulan

Kebetulan-kebetulan yang kamu rasakan lantas kamu sanding-sandingkan dengan keadaan dan pemikiran sekarang. Hingga kamu sampai pada satu kesimpulan, bahwa benar dia adalah takdir yang Tuhan kirimkan.

Hello??

Kita tak akan pernah tau seseorang yang Tuhan berikan sebagai teman dalam perjalanan kehidupan, sampai janji suci itu benar-benar diucapkan.

Lantas, seberapa besar kita boleh berharap? Sebesar kapasitas hati kita untuk menampung rasa kecewa.

Oleh-oleh Lebaran

Ada yang sudah menemukan kekasih halalnya, juga sudah diamanahi titipan buah hati olehNya, sayangnya keduanya belum punya pekerjaan yang menjanjikan tercukupi kebutuhan. Lalu orang berkomentar, gimana mau ngebeliin susu anak, harusnya itu nyari kerja mapan dulu baru nikah, buru-buru sih..

Ada yang sudah dipertemukan dengan belahan jiwa, keduanya sama-sama sudah mapan, sayangnya sudah 10 tahun berumah tangga belum juga diamanahi buah cinta. Lalu orang berkomentar, mau buat apa hartanya kalo nggak punya anak, percuma juga kerja ngoyo siang malam..

Ada yang sudah berumah tangga, punya anak tak butuh waktu lama, dua duanya juga punya penghasilan yang cukup, sayang karena pekerjaan keduanya harus tinggal di dua pulau yang berbeda, ratusan kilometer jaraknya. Lalu orang berkomentar, kasian ya gajinya abis cuma buat ketemuan doang, lamanya ketemuan juga nggak sebanding sama mahalnya tiket pesawat..

Ada yang lagi galau gundah gulana. Teman seangkatannya sudah berlomba-lomba menyebarkan undangan. Orang tuanya sudah bertanya-tanya kapan naik pelaminan. Saudara-saudaranya sudah menyindir-nyindir kapan bikin seragaman.

SEE??

Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Setiap orang punya kegelisahannya sendiri-sendiri. Hanya yang senantiasa percaya rencanaNya yang terbaik, hanya yang senantiasa tak ambil hati dengan komentar negatif orang-orang, hanya yang senantiasa bersabar dengan segala permasalahan kehidupan, yang akan mampu menjalani setiap inci dalam hidupnya dengan senyuman keikhlasan. MENANGKAN! ^_^

Kembali

Malam 27 Ramadhan. H minus 3 lebaran. Sudah gembira bukan kepalang karena mau pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua, saudara, kawan, dan handai taulan. Ternyata Allah menakdirkanmu pulang ke sebenar-benarnya kampung halaman.

Selamat jalan sahabat terbaik. Ada banyak orang mendoakanmu dari sini. Semoga kesaksian kami bahwa kamu orang baik membantu melapangkan tempat istirahat terakhirmu. Kami semua sayang kamu. Ah masih sedih sebenernya tapi kami yakin Allah lebih sayang padamu.

Bahwa hidup sejatinya hanya pergantian pagi petang, datang pergi, sedih bahagia, perjumpaan dan perpisahan. Cukuplah kematian sebagai pengingat.

01 Juli 2016

 

Tentang Menyampaikan

Suatu ketika ada yang nanya sama kita, kalo begini gak papa kan ya? Sepengetahuan dan sepemahaman kita itu adalah persoalan yang salah. Pas disampein ke si penanya, kata ‘si itu’ boleh lho. Duh, ‘si itu’ seperguruan sama kita lagi. Yang seperguruan saja belum tentu punya pemahaman yang sama apalagi yang lain perguruan.

Nah di sinilah tugas kita ngebenerin yang salah, ngelurusin yang bengkok. The art of ngebenerin or ngelurusin tanpa menjudge pemahaman-yang-masih-salah-nya orang lain. Bukan karena si itu salah lantas kita mengumpat dengan seenaknya. Ada cara-cara terpuji yang tentu tak kita dapat saat pendidikan formal kemarin dulu. Menyampaikan kebenaran tanpa kesan menggurui. Menyampaikan kebenaran dengan kebaikan setulus hati.