Catatan Perjalanan Malang part 2 – Candi Jago

Selesai bersih-bersih dan sholat dzuhur, kami berencana mencari makan siang. Untuk itu kami keluar menuju pasar Tumpang yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah Dita. Kami masuk ke warung bakso. Dingin-dingin gini enaknya emang makan bakso :9. Walaupun siang-siang tapi cuaca di daerah ini memang dingin. Bakso yang dijual di sini beda karena ada lontongnya. Jadi bisa lebih kenyang deh.

Setelah makan bakso, Dita mengajak kami mengunjungi candi Jago yang lagi-lagi letaknya tak terlalu jauh sehingga kami bisa ke sana hanya dengan berjalan kaki. Hebatnya lagi masuk ke candi ini free alias gratis. Sayangnya bangunan candi ini nampak sudah tidak utuh lagi. Pemandangan terlihat lebih cantik dengan adanya taman yang menghiasi sekeliling bangunan candi ini.

Image

Candi Jago

mb Fifi, mb Diane a.k.a Bundo, Arum, Shelfia, mb Anin, Ria, Dita

mb Fifi, mb Diane a.k.a Bundo, Arum, Shelfia, mb Anin, Ria, Dita

Another 'arca' in Jago temple area

Another ‘arca’ in Jago temple area

Hari beranjak sore, gerimis juga perlahan-lahan turun, kami pun meninggalkan candi menuju ke rumah Dita kembali. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya, menata ulang barang bawaan, tidur-tiduran melepas lelah, membersihkan diri, juga mempersiapkan perbekalan untuk menjemput sunrise di Bromo esok hari šŸ˜€

Selepas maghrib, kami mencari makan malam di sepanjang jalan pasar Tumpang. Kaki kami akhirnya berhenti di warung tenda yang menjual ayam goreng dan bebek goreng. Kami terkaget-kaget dengan porsi yang dihidangkan. Super besar, melebihi porsi laki-laki. Dijamin kenyang pake banget makan di sini, sampai kami nggak kuat jalan. Sebanding lah sama harganya :3

Sebelum kembali ke rumah Dita, saya sempat membeli jas hujan 6ribuan (walopun murah dan bahan meragukan, tapi saya tidak menyesal membelinya-akan diceritakan kemudian, hhe-) karena hanya saya satu-satunya dalam rombongan yang tidak membawa mantel maupun payung (padahal lagi musim ujan, maklum tas saya sudah nggak cukup, hehe). Sementara bundo membeli sarung tangan untuk mengantisipasi hawa dingin saat ‘penjemputan’ sunrise besok.

Sampai di rumah Dita, kami bergantian membersihkan diri, sholat isya dan memutuskan langsung tidur karena tengah malam nanti kami harus sudah siap menuju penanjakan untuk melihat sunrise.

to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s