Kembali

Malam 27 Ramadhan. H minus 3 lebaran. Sudah gembira bukan kepalang karena mau pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua, saudara, kawan, dan handai taulan. Ternyata Allah menakdirkanmu pulang ke sebenar-benarnya kampung halaman.

Selamat jalan sahabat terbaik. Ada banyak orang mendoakanmu dari sini. Semoga kesaksian kami bahwa kamu orang baik membantu melapangkan tempat istirahat terakhirmu. Kami semua sayang kamu. Ah masih sedih sebenernya tapi kami yakin Allah lebih sayang padamu.

Bahwa hidup sejatinya hanya pergantian pagi petang, datang pergi, sedih bahagia, perjumpaan dan perpisahan. Cukuplah kematian sebagai pengingat.

01 Juli 2016

 

Advertisements

Selamat Berbahagia

Kayaknya baru kemarin kita foto ala ala di rumahmu. Waktu cepat berlalu, setelah kurang lebih 9 tahun akhirnya aku berkunjung lagi ke rumahmu. Kali ini aku bela-belain datang dari pulau seberang demi menyaksikan prosesi sakral itu.

SAH.

Nggak nyangka ya diantara kita berempat kamu yang ganti kode duluan. Selamat berbahagia Mentari 🙂 Semoga pernikahanmu selalu dalam keberkahan. Kebahagiaan ini terasa kurang lengkap karena salah satu diantara kita ada yang berhalangan hadir. Kesel sebenernya tapi ya sudahlah, karena yang berhalangan hadir itu juga sedang menyambut bahagianya di sana.

Sekali lagi selamat berbahagia, semoga kita-kita cepet nyusul.. 😀 😀

P_20160515_083233.jpg

P_20160515_133710

IMG-20160516-WA0020

Bertemu Kawan Lama

30 Mei 2014 menjadi hari yang penuh kenangan bagi kami. Setelah kurang lebih 7,5 tahun nggak ketemu ‘versi lengkap’, semenjak lulus smp, kami berempat akhirnya bisa dipertemukan kembali :’)

Sebelumnya dikenalin aja dulu ya personilnya, hehe. Kami empat sejoli adalah teman karib sejak kelas 3 smp. Dipertemukan dalam kelas yang sama, 3F! Kami berempat itu kalo disuruh bikin kelompok pasti satu kelompok, kalo istirahat pasti juga ke kantinnya bareng-bareng, di kelas juga duduknya sebelahan depan belakang, waktu study tour ke Bali juga satu kamar, pokoknya deket banget lah, udah kayak saudara sendiri 😀

Mereka adalah Dita, Deny, dan Mentari. Sayangnya ketika masuk SMA, Mentari terpisah dengan kami. Dia diterima di SMA lain, berbeda dengan kami bertiga 😦 Selepas SMA, Deny dan Mentari melanjutkan study di universitas yang sama yaitu UNY tapi dengan jurusan yang berbeda. Deny sang calon guru Biologi dan Mentari sang calon guru Kimia 🙂

Sebenarnya saya juga diterima di universitas yang sama dengan mereka. Namun, saya akhirnya berhijrah ke Jakarta karena diterima di STIS. Sedangkan Dita diterima di kampus yang letaknya sama-sama di Yogyakarta, yaitu UGM. Dita pun akhirnya memilih hijrah juga ke Bintaro karena diterima di STAN. Jadi akhirnya 2 di Jogja dan 2 di Jakarta 😀

Back to topic, rencana ini bermula dari obrolan kami di grup WA. Nggak tau darimana asal muasalnya hingga Dita memberi kabar bahwa ia akan pulang Magelang dalam minggu ini. Saya pun demikian, karena akan menghadiri pernikahan saudara sepupu saya, minggu ini pun saya juga akan pulkam. Nah, muncullah ide ketemuan ini. Setelah menimbang nimbang waktu yang tepat untuk bertemu, mengingat 2 guru kita sudah mulai mengajar (ciiee), akhirnya diputuskan ketemuan ba’da sholat Jumat.

Karena ceritanya ingin mengenang masa masa smp, diputuskanlah tempat ketemuannya di warung steak yang terletak persis di sebelah smp kami, SMP N 1 Magelang. Singkat cerita, akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Saya datang paling akhir (hehe, maap yak ^^v) dan sampai sana mereka sudah menikmati makanan yang mereka pesan.

Waktu ketemu mereka rasanya bahagia bangeeeett. Akhirnyaaa, after all this time 😀 Wajah mereka masih sama seperti dulu, nggak banyak berubah :p Tingkah polah mereka juga, haha.

Di warung steak itu kami juga melihat adek-adek kelas kami. Memang waktu mengubah segalanya, kalo zaman kita dulu keren kerennya makan ya bakso ato mie ayam. Lah anak zaman sekarang gaulnya di warung steak, ahaha.

Puas ngobrol ngalor ngidul, waktu beranjak siang dan kami masih ingin merasakan kebersamaan yang jarang terjadi ini 🙂 Maka kami menuju pusat kota, alun-alun Magelang! Sebelumnya kami mampir ke Masjid Agung karena ada dari kami yang belum sholat sekalian memarkirkan motor kami di sana.

It’s selfiiieee timeee 😀 Tak terhitung berapa foto yang kita abadikan. Satu jam di alun-alun hanya kita habiskan untuk membuat momen berharga. Aaaaaa, tak rela rasanya saat harus berpisah dengan kalian. Semoga lebaran nanti kita bisa ketemu lagi ya, bikin rekor foto-foto lagi, hehe..

Sukses untuk kita semuaa 😀 :*

After all this time ^__^

After all this time ^__^

Terima kasih untuk setengah hari yang menyenangkan :')

Terima kasih untuk setengah hari yang menyenangkan :’)

Best Friend Forever :D

Best Friend Forever 😀

Catatan Perjalanan Malang part 5 – Segara Anakan

Segara Anakan, Laguna di Tepian Samudra :’)

Hari ketiga di Malang akan kami isi dengan menjelajah pulau Sempu. Mungkin ada sebagian yang mengernyitkan dahi ketika disebutkan nama pulau itu. Saya pun demikian ketika mendengarnya untuk pertama kali. Pulau Sempu itu letaknya di ujung selatan kota Malang, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Pulau Sempu, ujung selatan Malang

Pulau Sempu, ujung selatan Malang

Pak sopir telah datang menjemput kami di penginapan sejak pukul 05.30 WIB. Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju pantai Sendang Biru (lokasi penyeberangan ke pulau Sempu). Butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan dari penginapan ke pantai ini.

Sampai di Sendang Biru, kami dianjurkan sarapan terlebih dahulu karena treking pulau Sempu ini memerlukan energi yang banyak. Ada banyak warung di sekitar Sendang Biru tapi kalo tidak salah hanya ada satu warung yang menjual makan besar. Kami sarapan di warung tersebut dengan menu yang belum lengkap karena beberapa sayur dan lauk sedang proses dimasak.

Tak lupa kami membeli bekal berupa 3 botol besar air mineral dan roti. Selesai sarapan kami menuju tempat penyewaan sepatu. Jadi saat treking pulau Sempu ini, sangat disarankan memakai sepatu khusus (sepatu anti licin) yang disewakan oleh warga sekitar. Kita harus memilih nomor yang pas agar tidak terjebak lumpur saat perjalanan. Harga sewa sepatunya cukup murah, 10 ribu. Saat perjalanan ke pulau Sempu, kami hanya boleh membawa barang-barang seperlunya saja, misal kamera dan bekal. Takutnya kalo kita kebanyakan membawa barang, bebannya semakin berat.

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 4 – BNS (Batu Night Spectacular)

Penginapan yang dipesan letaknya cukup dekat dengan objek wisata BNS (Batu Night Spectacular), begitu yang kami tau dari info di internet. Tapi nyatanya begitu mengikuti ibu pemilik penginapan yang menjemput kami di depan BNS, kami merasa nggak sampai-sampai di rumahnya :3 Mungkin menurut pemilik penginapan itu deket, tapi bagi kami harus berpikir ulang dengan rencana berjalan kaki ke BNS. Hadeuh..

Kekurangnyamanan itu seketika lenyap begitu kami tiba dan memasuki rumah tempat kami akan menginap. Penginapan yang lebih tepat disebut homestay ini menyajikan berbagai fasilitas. Diantaranya, halaman yang luas, ruang tamu, ruang santai dengan TV 20’ , kamar mandi dengan air hangat, 2 ekstra bed dalam 2 kamar, air panas dengan gula, kopi, dan teh, serta dapur (lengkap dengan peralatannya) yang dapat kami gunakan jika ingin memasak. Kok jadi berasa ngiklan ya? hehe. Nyaman banget pokoknya 😀

Karena jumlah kami ganjil, makanya ada 1 kamar yang diisi 3 orang dan kamar yang satunya lagi diisi 4 orang. Pembagian ini nggak menyinggung ‘itu’ lho ya, serius! Atau ntah naluri kami yang menggiring masing-masing dari kami, kamar mana yang pas untuk saya? Haha, bercanda :p

Kamar mandi hanya ada satu. Kembali kami gambreng untuk menentukan urutan. Kali ini komplet yang gambreng, hehe. Sore menjelang, perut lagi-lagi lapar (faktor dingin juga) 😀 Tak ingin menyia-nyiakan fasilitas yang sudah disediakan, kami menanak beras yang kami bawa dari rumah dengan magic com pinjaman dari ibu rumah. Selain itu, kami juga merebus mie instan di dapur. Selang beberapa menit, nasi dan mie rebus siap disantap :9

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 3 – Gunung Bromo

20 November 2013

Suara alarm bersahut-sahutan, berlomba membangunkan kami. Bergantian kami ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi sekadar menghilangkan rasa kantuk yang masih melekat. Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Kami segera mengenakan berlapis-lapis pakaian hangat. Tak lupa juga memakai sarung tangan, kaos kaki, syal, masker. Apapun yang bisa membuat badan kami hangat.

Sebelum bolang ke Malang ini terlaksana, kami telah memesan sebuah mobil travel yang akan mengantarkan kami menuju Bromo. Mobil itu kami sewa selama 2 hari agar dapat pula mengantarkan ke kota Batu Malang esok hari. Mbak Fifi berkata untuk mempercepat persiapan karena sang sopir (yang bahkan sampai pulang, kami tak tau namanya, maaf Pak ^/\^, atau hanya saya yang nggak tau namanya?) sudah menunggu di depan. Karena rencananya kami akan kembali ke rumah Dita, kami hanya membawa barang-barang seperlunya saja. Semula Dita juga akan ikut ke Bromo tapi karena tidak mendapat izin dari orang tuanya akhirnya dia tidak jadi ikut.

Setelah semuanya siap, kami segera menaiki mobil Avanza tersebut. Pas sekali tempat duduknya untuk kami bertujuh. Sesuai rencana awal, mobil pun mulai berjalan ke arah pos pendakian Poncokusumo. Sekadar info, untuk bisa ke Bromo ada banyak pos yang bisa dipilih dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 3 pos yang paling banyak dipilih oleh wisatawan adalah Poncokusumo (Malang), Tosari (Pasuruan), dan Cemorolawang (Probolinggo). Dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dengan tempat kami menginap, kami memilih lewat Poncokusumo.

Nah, di sinilah terjadi suatu insiden di luar dugaan. Bermula saat pak sopir menanyakan apakah kami sudah memesan jeep yang bisa mengantarkan kami ke penanjakan (tempat melihat sunrise). Ternyata kami salah informasi. Kami mengira mobil ini bisa mengantarkan sampai ke penanjakan. Dari pak sopir kami tahu bahwa saat ini hanya mobil jeep yang diperbolehkan ke penanjakan, katanya untuk pemerataan pendapatan warga di sana. Mendengar jawaban kami yang belum mempersiapkan jeep membuat pak sopir menghentikan laju kendaraannya. Pak sopir itu juga ikut-ikutan bingung. Takutnya kalo kami mencari jeep on the spot (setelah sampai di pos), harga yang diberikan di atas harga pada umumnya.

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 2 – Candi Jago

Selesai bersih-bersih dan sholat dzuhur, kami berencana mencari makan siang. Untuk itu kami keluar menuju pasar Tumpang yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah Dita. Kami masuk ke warung bakso. Dingin-dingin gini enaknya emang makan bakso :9. Walaupun siang-siang tapi cuaca di daerah ini memang dingin. Bakso yang dijual di sini beda karena ada lontongnya. Jadi bisa lebih kenyang deh.

Setelah makan bakso, Dita mengajak kami mengunjungi candi Jago yang lagi-lagi letaknya tak terlalu jauh sehingga kami bisa ke sana hanya dengan berjalan kaki. Hebatnya lagi masuk ke candi ini free alias gratis. Sayangnya bangunan candi ini nampak sudah tidak utuh lagi. Pemandangan terlihat lebih cantik dengan adanya taman yang menghiasi sekeliling bangunan candi ini.

Image

Candi Jago

Continue reading