Resensi : The Architecture of Love

taol

image from : https://www.tokopedia.com/tokokesaintblanc/metropop-the-architecture-of-love-by-ika-natassa

Tentang River dan Raia juga tentang New York. Raia, seorang penulis yang tengah stuck dengan ide menulisnya karena baru saja kehilangan ‘muse’ atau sumber ide yang tak lain adalah mantan suaminya. River, seorang perancang bangun yang juga tengah mengasingkan diri sejenak karena baru saja ditinggal istrinya. Keduanya dipertemukan tanpa sengaja di kota yang menduduki urutan teratas paling banyak dijadikan setting cerita atau film, New York.

Setelah dipertemukan tanpa sengaja, berdua mulai terbiasa menghabiskan waktu bersama, setiap hari berjalan mengelilingi penjuru New York. River, si Bapak Sungai, menggambar bangunan apa saja yang dilihatnya sementara Raia masih terus berusaha menemukan ide untuk karya terbarunya. Raia tak kunjung berhasil menulis kalimat lanjutan novelnya sampai River mengajarinya melihat kota New York dengan cara berbeda. Karena tidak ada perjalanan yang tidak berbuah menjadi inspirasi.

Kesan pertama membaca The Architecture of Love (TAOL) ini sama dengan kesan pertama saya membaca Critical Eleven, karya Ika Natassa yang pertama saya baca. Penulisnya cerdas! Pengetahuannya banyak, Inggrisnya juga bagus. Kalo baca karya Ika Natassa yang notabene -tak terduga- seorang banker ini selalu dapet bonus referensi film, lagu, juga buku kelas internasional secara nggak langsung.

Istimewa dari buku kedelapannya Ika Natassa ini adalah buku pertama di dunia yang ditulis dengan memanfaatkan fitur poll di Twitter –applause– Jadi novel ini melibatkan pembaca memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya melalui fitur poll. Ika Natassa berhasil membawa siapa saja yang membaca TAOL ikut merasakan jalan-jalan menyusuri New York. Rinci, gamblang, lengkap sampai ke sejarah bangunannya. Semacam membaca versi 4D, I guess hehe.

Tapi jujur dari segi cerita, persiapan, kematangan, saya menilai Critical Eleven lebih tinggi daripada TAOL. Ya nggak bisa dipungkiri memang, TAOL ini dibuat sangat kilat, kurang dari 3 bulan (cmiiw). Saya temukan ada beberapa plot inkonsisten. Misal, lagi nyeritain ‘pas foto’ tapi dideskripsikan sepatunya juga, diceritakan datang 2 orang laki-laki tim editor tapi cerita berikutnya disebutkan namanya perempuan. But overall, TAOL ini novel yang sayang untuk dianggurkan.

Kutipan :

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do. (pg.15)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory. (pg.66)

Every person has at least one secret that will break your heart. (pg.68)

Laughing is always liberating. And laughing with someone is always healing, somehow. (pg.85)

So long as you have food in your mouth, you have solved all questions for the time being. (pg.142)

Somethings in life are not meant to be measured, but just to be experienced, right? (pg.159)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang. (pg.164)

Satu lagi kutukan perempuan. Tetap melakukan sesuatu yang dia tahu dan sadar akan berujung menyakiti, hanya karena itulah yang diinginkan seseorang yang disayanginya. (pg.171)

The way you see people is the way you treat them, and the way you treat them is what they become. (pg.226)

What is wrong about always searching for answers about something that happened in your past? It keeps you from looking forward. It distracts you from what’s in front of you. Your future. (pg.237)

Masa lalu itu bukan untuk dihilangkan namun cukup diterima dan dilewati. (pg.260)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s