Niat dan Sikap

Memang tak ada salahnya membagikan kabar bahagia di berbagai sosial media. Tapi, apakah semua orang yang membacanya ikut merasakan kebahagiaan tersebut? Belum tentu.

Bisa jadi, kebahagiaan yang kau sebarkan itu adalah kebahagiaan yang juga diinginkan orang lain tapi belum Allah izinkan dia untuk memilikinya. Bisa jadi, kebahagiaan yang kau sebarkan itu memunculkan rasa iri pada orang yang melihatnya.

Tak henti-hentinya mulut berkomentar tentang kabar bahagia yang dibagikan seorang kawan di berbagai sosial media. Sebegitu sombongkah orang yang hobinya membagikan kabar bahagia itu? Belum tentu.

Bisa jadi tujuan orang membagikan kabar bahagia itu untuk memacu orang yang tengah memperjuangkan hal yang sama agar tak pernah menyerah. Bisa jadi tujuan orang membagikan kabar bahagia itu untuk menyebarkan peluang-peluang kebaikan yang sama kepada orang lain yang membacanya.

Semuanya kembali pada niat dan sikap.

Baca Sebelum Bertanya

Iseng explore instagram, nemu buku yang menarik pandang. Merasa tertarik, saya cari taulah buku itu. Sampai di satu post yang mengabarkan bahwa buku tersebut sedang open PO (preorder). Inti dari saya menge-post tulisan ini sebenernya bukan itu. Yang membuat saya tergelitik yakni ketika secara sengaja saya membaca komentar dari post foto instagram tadi, dengan tujuan mendapat info atau testimoni tentang buku tersebut. Dan saya menemukan satu komentar yang membuat saya geregetan membacanya. Satu kalimat singkat, “Harganya berapa ya kak?” Hmmmmm…

Padahal ya dalam post foto tersebut sudah terpampang nyata angka dalam rupiah yang menunjukkan harga dari buku itu. Sepele mungkin bagi sebagian orang, tapi kok saya ngerasa geregetan sekali? Gimana  sama admin yang baca komentar itu ya? Terpujilah para admin berbagai olshop yang dengan setia menjawab pertanyaan calon customer-nya dengan sangat sabar dan sopan, dari yang serius mau beli, iseng nanya-nanya, sampai pertanyaan remeh-remeh kurang berguna.

Budaya membaca sebelum bertanya inilah yang nampaknya mulai dilupakan sebagian orang. Mereka sudah terlanjur malas untuk sekadar mencari tau terlebih dahulu. Meskipun informasi tersebut sudah terpampang di depan mereka tapi orang-orang lebih cenderung langsung bertanya. Dengan harapan dapat jawaban cepat padahal belum tentu seperti yang mereka harapkan.

Sama kasusnya dengan email juga grup Whatsapp. Mungkin karena saking sibuknya jadi nggak sempat bukain email satu-satu. Apalagi email kantor yang isinya campuran dari berbagai seksi. Begitu lagi perlu malas nyariin satu-satu, nanya lah. Jawaban pertanyaan nggak sesuai dengan yang diinginkan, yang ditanya juga masih sibuk dengan urusan yang lain. Padahal kalo mau nyari, semua term and condition, manual, daftar permasalahan beserta penyelesaian, ada semua secara rinci di email yang dikirim entah sejak kapan. Yang ini pengalaman pribadi sebenernya, hahaha.

Jadi marilah mengembalikan kebiasaan membaca sebelum bertanya. Kita lega orang lain juga suka, tanpa perlu banyak tanya.

Tilang

Bapak, aku tadi kena tilang..

Kurang sedekah kamu mbak..

Satu kalimat dari bapak yang buat speechless untuk sekian detik kemudian. Jawaban di luar ekspektasi. Berharap respon, kok bisa? Dimana kena tilangnya? Sidang apa bayar di tempat? Diminta bayar berapa? Ya, walau pada akhirnya respon yang diharapkan itu ditanyakan juga.

Lalu saya coba ingat-ingat, kapan terakhir kali saya sedekah? Nampaknya sudah lama sekali sampai saya tak bisa mengingatnya. Sedekah itu memang harus diagendakan. Bukan melakukan ketika ada kesempatan, tapi mencari kesempatan untuk melakukan.

Ah, bapak… Jadi rindu…

Resensi : The Architecture of Love

taol

image from : https://www.tokopedia.com/tokokesaintblanc/metropop-the-architecture-of-love-by-ika-natassa

Tentang River dan Raia juga tentang New York. Raia, seorang penulis yang tengah stuck dengan ide menulisnya karena baru saja kehilangan ‘muse’ atau sumber ide yang tak lain adalah mantan suaminya. River, seorang perancang bangun yang juga tengah mengasingkan diri sejenak karena baru saja ditinggal istrinya. Keduanya dipertemukan tanpa sengaja di kota yang menduduki urutan teratas paling banyak dijadikan setting cerita atau film, New York.

Setelah dipertemukan tanpa sengaja, berdua mulai terbiasa menghabiskan waktu bersama, setiap hari berjalan mengelilingi penjuru New York. River, si Bapak Sungai, menggambar bangunan apa saja yang dilihatnya sementara Raia masih terus berusaha menemukan ide untuk karya terbarunya. Raia tak kunjung berhasil menulis kalimat lanjutan novelnya sampai River mengajarinya melihat kota New York dengan cara berbeda. Karena tidak ada perjalanan yang tidak berbuah menjadi inspirasi.

Kesan pertama membaca The Architecture of Love (TAOL) ini sama dengan kesan pertama saya membaca Critical Eleven, karya Ika Natassa yang pertama saya baca. Penulisnya cerdas! Pengetahuannya banyak, Inggrisnya juga bagus. Kalo baca karya Ika Natassa yang notabene -tak terduga- seorang banker ini selalu dapet bonus referensi film, lagu, juga buku kelas internasional secara nggak langsung.

Istimewa dari buku kedelapannya Ika Natassa ini adalah buku pertama di dunia yang ditulis dengan memanfaatkan fitur poll di Twitter –applause– Jadi novel ini melibatkan pembaca memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya melalui fitur poll. Ika Natassa berhasil membawa siapa saja yang membaca TAOL ikut merasakan jalan-jalan menyusuri New York. Rinci, gamblang, lengkap sampai ke sejarah bangunannya. Semacam membaca versi 4D, I guess hehe.

Tapi jujur dari segi cerita, persiapan, kematangan, saya menilai Critical Eleven lebih tinggi daripada TAOL. Ya nggak bisa dipungkiri memang, TAOL ini dibuat sangat kilat, kurang dari 3 bulan (cmiiw). Saya temukan ada beberapa plot inkonsisten. Misal, lagi nyeritain ‘pas foto’ tapi dideskripsikan sepatunya juga, diceritakan datang 2 orang laki-laki tim editor tapi cerita berikutnya disebutkan namanya perempuan. But overall, TAOL ini novel yang sayang untuk dianggurkan.

Kutipan :

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do. (pg.15)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory. (pg.66)

Every person has at least one secret that will break your heart. (pg.68)

Laughing is always liberating. And laughing with someone is always healing, somehow. (pg.85)

So long as you have food in your mouth, you have solved all questions for the time being. (pg.142)

Somethings in life are not meant to be measured, but just to be experienced, right? (pg.159)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang. (pg.164)

Satu lagi kutukan perempuan. Tetap melakukan sesuatu yang dia tahu dan sadar akan berujung menyakiti, hanya karena itulah yang diinginkan seseorang yang disayanginya. (pg.171)

The way you see people is the way you treat them, and the way you treat them is what they become. (pg.226)

What is wrong about always searching for answers about something that happened in your past? It keeps you from looking forward. It distracts you from what’s in front of you. Your future. (pg.237)

Masa lalu itu bukan untuk dihilangkan namun cukup diterima dan dilewati. (pg.260)

Ephemera

Terima kasih untuk kisah -tanpa tatap apalagi temu- yang pernah berjalan. Atas semangat yang pernah menyublim dalam langkah. Juga untuk inspirasi yang teramat besar yang aku tak tahu cara kerjanya.

Entah bagaimana cerita ini akan berlanjut, untuk kali ini, aku tidak berani berharap apa-apa. Biar Tuhan yang menulis. Karena berharap pada manusia hanya akan membuat kecewa.

-Ahimsa Azaleav

Kebetulan-kebetulan

Kebetulan-kebetulan yang kamu rasakan lantas kamu sanding-sandingkan dengan keadaan dan pemikiran sekarang. Hingga kamu sampai pada satu kesimpulan, bahwa benar dia adalah takdir yang Tuhan kirimkan.

Hello??

Kita tak akan pernah tau seseorang yang Tuhan berikan sebagai teman dalam perjalanan kehidupan, sampai janji suci itu benar-benar diucapkan.

Lantas, seberapa besar kita boleh berharap? Sebesar kapasitas hati kita untuk menampung rasa kecewa.

Oleh-oleh Lebaran

Ada yang sudah menemukan kekasih halalnya, juga sudah diamanahi titipan buah hati olehNya, sayangnya keduanya belum punya pekerjaan yang menjanjikan tercukupi kebutuhan. Lalu orang berkomentar, gimana mau ngebeliin susu anak, harusnya itu nyari kerja mapan dulu baru nikah, buru-buru sih..

Ada yang sudah dipertemukan dengan belahan jiwa, keduanya sama-sama sudah mapan, sayangnya sudah 10 tahun berumah tangga belum juga diamanahi buah cinta. Lalu orang berkomentar, mau buat apa hartanya kalo nggak punya anak, percuma juga kerja ngoyo siang malam..

Ada yang sudah berumah tangga, punya anak tak butuh waktu lama, dua duanya juga punya penghasilan yang cukup, sayang karena pekerjaan keduanya harus tinggal di dua pulau yang berbeda, ratusan kilometer jaraknya. Lalu orang berkomentar, kasian ya gajinya abis cuma buat ketemuan doang, lamanya ketemuan juga nggak sebanding sama mahalnya tiket pesawat..

Ada yang lagi galau gundah gulana. Teman seangkatannya sudah berlomba-lomba menyebarkan undangan. Orang tuanya sudah bertanya-tanya kapan naik pelaminan. Saudara-saudaranya sudah menyindir-nyindir kapan bikin seragaman.

SEE??

Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Setiap orang punya kegelisahannya sendiri-sendiri. Hanya yang senantiasa percaya rencanaNya yang terbaik, hanya yang senantiasa tak ambil hati dengan komentar negatif orang-orang, hanya yang senantiasa bersabar dengan segala permasalahan kehidupan, yang akan mampu menjalani setiap inci dalam hidupnya dengan senyuman keikhlasan. MENANGKAN! ^_^