Catatan Perjalanan Malang part 3 – Gunung Bromo

20 November 2013

Suara alarm bersahut-sahutan, berlomba membangunkan kami. Bergantian kami ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi sekadar menghilangkan rasa kantuk yang masih melekat. Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Kami segera mengenakan berlapis-lapis pakaian hangat. Tak lupa juga memakai sarung tangan, kaos kaki, syal, masker. Apapun yang bisa membuat badan kami hangat.

Sebelum bolang ke Malang ini terlaksana, kami telah memesan sebuah mobil travel yang akan mengantarkan kami menuju Bromo. Mobil itu kami sewa selama 2 hari agar dapat pula mengantarkan ke kota Batu Malang esok hari. Mbak Fifi berkata untuk mempercepat persiapan karena sang sopir (yang bahkan sampai pulang, kami tak tau namanya, maaf Pak ^/\^, atau hanya saya yang nggak tau namanya?) sudah menunggu di depan. Karena rencananya kami akan kembali ke rumah Dita, kami hanya membawa barang-barang seperlunya saja. Semula Dita juga akan ikut ke Bromo tapi karena tidak mendapat izin dari orang tuanya akhirnya dia tidak jadi ikut.

Setelah semuanya siap, kami segera menaiki mobil Avanza tersebut. Pas sekali tempat duduknya untuk kami bertujuh. Sesuai rencana awal, mobil pun mulai berjalan ke arah pos pendakian Poncokusumo. Sekadar info, untuk bisa ke Bromo ada banyak pos yang bisa dipilih dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 3 pos yang paling banyak dipilih oleh wisatawan adalah Poncokusumo (Malang), Tosari (Pasuruan), dan Cemorolawang (Probolinggo). Dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dengan tempat kami menginap, kami memilih lewat Poncokusumo.

Nah, di sinilah terjadi suatu insiden di luar dugaan. Bermula saat pak sopir menanyakan apakah kami sudah memesan jeep yang bisa mengantarkan kami ke penanjakan (tempat melihat sunrise). Ternyata kami salah informasi. Kami mengira mobil ini bisa mengantarkan sampai ke penanjakan. Dari pak sopir kami tahu bahwa saat ini hanya mobil jeep yang diperbolehkan ke penanjakan, katanya untuk pemerataan pendapatan warga di sana. Mendengar jawaban kami yang belum mempersiapkan jeep membuat pak sopir menghentikan laju kendaraannya. Pak sopir itu juga ikut-ikutan bingung. Takutnya kalo kami mencari jeep on the spot (setelah sampai di pos), harga yang diberikan di atas harga pada umumnya.

Seperti melihat kebingungan kami, tiba-tiba ada seorang bapak dari rumah di seberang jalan tempat kami berhenti menghampiri kami. Beliau menawarkan jeep dengan harga 1,1 juta. Wow, itu nggak ada di anggaran kita! Kami hanya diam dengan pikiran masing-masing, menimbang-nimbang jalan terbaik apa yang harus diambil, sampai pak sopir menawarkan suatu alternatif. Katanya kalo naik jeep dari Poncokusumo memang jatuhnya lebih mahal karena jarak dari pos di Poncokusumo ke penanjakan jauh. Kalo kami mau harga jeep yang lebih murah bisa lewat Tosari (jarak dari pos ke penanjakan lebih dekat). Resikonya, kami harus berbalik arah menuju Pasuruan.

Pak sopir yang baik hati itu juga berusaha menghubungi kenalannya yang ada linkpenyewaan jeep. Meski sebelumnya susah dihubungi (tengah malam cuy), alhamdulillaah akhirnya bisa tersambung juga. Ada jeep yang bisa disewa dengan biaya 650ribu. Tanpa pikir panjang, kami pun memutuskan untuk mengganti rencana awal menjadi lewat Tosari. Pak sopir pun lalu memutar arah mobil yang dikendarainya.

Masih panik dan kaget dengan insiden barusan, kami tak sampai memikirkan gimana ngambil barang kami yang masih ada di rumah Dita nantinya sepulang dari Bromo, sementara jarak Pasuruan-Tumpang itu jauh. Untungnya pak sopir (lagi-lagi, makasih bnyk Pak :)) langsung ‘ngeh’ dengan keadaan itu. Kami disarankan mengambil semua barang yang masih ada di rumah Dita. Karena setelah dari Bromo kami berencana ke Batu, jadi biar ntar nggak perlu balik ke Tumpang lagi, biar lebih efektif waktunya.

Kepanikan datang kembali ketika handpone Dita tidak dapat dihubungi. Berkali kali ditelpon, yang terdengar hanya nomor yang anda hubungi sedang berada di luar area. Disms juga nggak ada respon. Haduh, gimana ini? Apa mungkin karena yang menghubungi beberapa orang, jadi sambungannya tabrakan? Mungkin saja. Hingga akhirnya, alhamdulillaah Ria berhasil mendengar suara Dita.

Dengan tergesa-gesa kami mengambil barang-barang. Untungnya bawaan kami itu sebagian besar sudah masuk ransel sehingga tak perlu waktu yang lama untuk dapat mengangkutnya. Saking buru-burunya, retsleting tas jinjing saya sampai jebol (emang beda ya nge-pack barang sebelum dan sesudah berangkat itu -.-)

Rencana yang di luar dugaan ini membuat kami merasa nggak enak sama Dita dan mbahnya. Udah terlalu banyak bantuan yang mereka berikan. Mulai dari menjemput kami di stasiun, mengantar keliling kota Malang, memberi tumpangan menginap kami bertujuh, membangunkannya tengah malam hanya untuk membukakan pintu untuk kami, kembali mengusik tidurnya karena kami harus mengambil barang, sampai nggak sempat pamit sama mbahnya karena benar-benar rencana ini di luar dugaan. Dan lagi kami belum sempat mencuci gelas-gelas teh yang mereka suguhkan. Maaf banget ya Dit. Juga makasih banget udah mau kami repotkan. 😉

Perjalanan menuju pos Tosari tidak terlalu kami nikmati. Kami lebih memilih melanjutkan tidur kami, hehe. Tapi saya bisa menebak bahwa jalur yang dilewati penuh dengan tikungan tajam. Terbukti ketika bangun, saya merasa pusing dan mual. Ternyata tidak hanya saya yang merasakannya, teman-teman lain juga. Pukul 02.45 WIB kami tiba di parkiran dimana mobil penumpang hanya boleh sampai sini. Jeep yang dipesan sudah menunggu kami. Udara dingin mulai terasa menusuk-nusuk tulang. Sampai –sampai ada teman yang menambah lapisan pakaiannya agar lebih hangat. Ternyata kami nggak sendiri, ada rombongan lain yang akan melihat sunrise juga, sama seperti kami. Diantara rombongan itu ada pula turis asing.

Setelah siap, kami bertujuh menaiki jeep. 2 orang di depan bersama pak sopir dan 5 orang di belakang. Semakin jauh jeep berjalan, semakin terasa hawa dingin menusuk-nusuk tulang. Jarak pandang juga sangat dekat karena kabut tebal menutupinya.

30 menit berlalu hingga akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami agak pesimis dapat melihat sunrise secara sempurna karena gerimis turun dan kabut masih tebal. Tapi kami tetap berharap suasana itu akan segera berubah menjadi cerah. Kami masuk ke salah satu warung untuk memesan jahe anget dan pisang goreng panas. Kehangatan menjalari tubuh begitu kami menyantapnya.

Menjelang azan subuh, kami yang tidak berhalangan segera mengambil air wudhu. Begitu menyentuh air, brrrrrr, tubuh kami sontak gemetaran. Apalagi ketika berkumur, rasa-rasanya seperti mengulum es.  Selesai sholat, kami harus berjalan sebentar menuju view point, tempat yang disediakan untuk melihat sunrise. Sudah banyak orang berkumpul di sana. Sayangnya cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami. Kabut masih menyelimuti sehingga matahari terbit tidak dapat kami lihat dengan sempurna. Hanya semburat jingganya yang sesekali menampakkan keindahan. Walaupun begitu, kami tidak terlalu menyesal. Kami sudah tiba di sini dan cukup puas dengan keindahan yang disajikan oleh Sang Maha Indah. 😀

Berpose sebelum naik jeep, tebak siapa rekor pakaian lapis terbanyak? :p

Berpose sebelum naik jeep, tebak siapa rekor pakaian lapis terbanyak? :p

Kabut tebal, sampai lensa kameranya berembun

Kabut tebal, sampai lensa kameranya berembun

Semburat jingga

Semburat jingga

Paket penyewaan jeep ini tidak hanya mengantarkan kami melihat sunrise. Setelah puas di penanjakan, kami dibawa ke beberapa tempat wisata yang tak kalah mengagumkan. Kami melewati jalan sempit dan berliku, hanya cukup dilewati satu jeep, jadi jika berpapasan harus pintar-pintar berbagi jalan. Kanan kiri berupa lembah dengan suguhan pemandangan yang membuat kami tak henti-henti berdecak kagum.

Berlatar belakang kompleks gunung Bromo

Berlatar belakang kompleks gunung Bromo

Setelah sempat berhenti di tengah perjalanan untuk mengabadikan kenangan berlatar belakang kompleks gunung Bromo, kami dibawa ke kawasan pasir berbisik. Konon dinamakan pasir berbisik karena saat musim kemarau pasir-pasir di sini mengeluarkan suara-suara mirip bisikan. Di tempat inilah film dengan judul yang sama dibuat. Kami baru menyadari bahwa tempat seperti ini benar-benar nyata. Sejauh mata memandang hanya nampak pasir dan pasir. Wow, benar-benar membuat kami merasa sangat kecil di dunia ini :’)

Di antara lautan pasir berbisik

Di antara lautan pasir berbisik

:)

🙂

Selanjutnya kami dibawa ke padang savana sekaligus bukit Teletubbies. Jika tadi kami melihat hamparan pasir yang sangat luas maka kali ini kami disuguhi pemandangan padang rumput yang tak kalah luas dan juga sejuk dipandang mata. Melihat pemandangan seperti itu, kembali membuat kami tak henti berdecak kagum akan kuasaNya. Subhanallaah :’) Bukit ini jelas sudah ada jauh sebelum serial film anak-anak itu populer di layar kaca. Entah apa nama bukit itu sebelum teletubbies terkenal, hehe.

Bukit Teletubbies

Bukit Teletubbies

Puas menikmati keindahan ketiga wisata spektakuler, akhirnya yang dinanti-nanti pun tiba. Sebentar lagi kami akan mendaki gunung Bromo! 😀 Masih naik jeep, kami hanya diantar sampai batas mobil ini boleh berhenti. Kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawah Bromo. Ada alternatif lain yang ditawarkan untuk mengurangi waktu tempuh dan menghemat energi, yaitu dengan menunggang kuda. Harga yang dipatok bervariasi tergantung jarak awal menunggang. Kami yang berjiwa muda (ceileh) memilih untuk menaklukkan gunung Bromo dengan berjalan kaki! Dimulai dengan penuh semangat, lama-lama ngos-ngos an juga, haha. Sepanjang pendakian menuju kawah, kami juga harus sabar meladeni para pesewa kuda yang tak henti-henti menawarkan jasanya. Dengan menunggangi kuda, mereka mengikuti kami dari belakang, sesekali diiringi dengan ringkikan kudanya yang membuat kami kaget :3 Tapi kami kekeuh melanjutkan dengan kaki kami sendiri sampai puncak! (^^)9

Setelah mendaki bukit pasir, kami harus menaiki anak tangga menuju kawah Bromo. Anak tangga bagian bawah sudah tertutup pasir akibat erosi, sementara anak tangga lainnya juga dipenuhi dengan pasir sehingga para pendaki harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Tangga ini dibuat 2 jalur, satu jalur untuk pendaki  yang naik dan yang lain untuk yang turun, masing-masing jalur hanya muat 1 orang. Jadi kita harus ekstra hati-hati ketika menaikinya.

Kami memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk berjalan kaki dari parkiran jeep sampai kawah Bromo. Semua perjuangan berat jalan mendaki dan menaiki anak tangga itu terbayar lunas ketika tiba di atas. Kapan lagi bisa menyaksikan kawah gunung langsung dari tepiannya? Kawah ini memang masih aktif, bau belerang tercium samar-samar bersama hembusan angin. Bukan hanya pemandangan kawah yang menakjubkan, tapi juga pemandangan alam sekitarnya begitu memesona.

Tak berlama-lama kami berada di tepian kawah karena semakin siang, belerang yang dikeluarkan semakin banyak dan itu tidak baik bagi kesehatan. Perjalanan turun menuju parkiran jeep kami tempuh tak selama waktu mendaki. Hanya yang perlu diwaspadai adalah angin yang berhembus akan membawa pasir hingga kami harus menutup mata beberapa saat.

Bukit pasir yang harus didaki, semangaaaaaaaattt ^^)9

Bukit pasir yang harus didaki, semangaaaaaaaattt ^^)9

Anak tangga yang harus dinaiki sudah nampak di depan mata, +- 250 anak tangga

Anak tangga yang harus dinaiki sudah nampak di depan mata, +- 250 anak tangga

Curamnya anak tangga dilihat dr atas

Curamnya anak tangga dilihat dari atas

Kawah Bromo

Kawah Bromo

Aneka souvenir edelwies, sebenarnya boleh dijual nggak sih? :'(

Aneka souvenir edelwies, sebenarnya boleh dijual nggak sih? 😥

Sopir jeep sudah menunggu. Kami pun diantar kembali ke parkiran mobil travel. Setelah menyelesaikan transaksi sewa jeep, kami kembali menaiki mobil travel. Selanjutnya kami akan menuju tempat penginapan yang telah kami pesan di daerah Oro-Oro Ombo, Batu.

Di tengah perjalanan, kami saling bincang pengalaman yang tak kan terlupakan yang baru saja kami torehkan. Di tengah perbincangan itu tiba-tiba terdengar suara notif line cukup keras dan berulang-ulang. Kami saling tuduh dan menggoda siapa yang kira-kira mendapat pesan bertubi-tubi itu. Masih ramai mendebatkan siapa yang sebenarnya diperbincangkan, tiba-tiba dari arah depan pak sopir berkata, “Itu hape saya mbak,”. Kontan saja seisi mobil terpingkal-pingkal sekaligus malu. Haha. Sepengal kenangan yang tak terlupakan. 🙂

Selain karena sarapan hanya dengan roti dan susu, pendakian yang melelahkan tadi pagi membuat kami mempercepat jam makan siang, hehe. Untuk itu dalam perjalanan ke penginapan, kami singgah di sebuah rumah makan. Entah karena saking laparnya ato memang cara memasaknya yang lain daripada yang lain, makan di tempat itu terasa nikmat sekali. Hanya saja penyajiannya kurang cepat. Masak saya udah selesai makan, makanan teman saya baru diantar –” Konsekuensi dari kenikmatan makan di tempat itu kali ya..

to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s