BIMTEK PEMBINAAN TI

Namanya juga anak rantau. Selalu senang kalo disuruh balik kampung halaman. Apalagi gratisan, hehe. Yap, awal bulan ini mendapat kepercayaan mengikuti bimtek pembinaan TI dalam rangka Sensus Ekonomi 2016. Lokasinya itu lho yang bikin bahagia nggak ketulungan ๐Ÿ˜€ Yogyakarta! Yang kepikiran tentu saja pulang kampungnya, hehe. Secara Magelang kan cuma selemparan mata dari Jogja #halah. Sekali merengkuh dayung, 2 pulau terlewati, begitu kata peribahasa ๐Ÿ˜€

Pengalaman berharga banget bisa ikut bimtek ini. Selama bimtek, kami dibagi dalam kelas-kelas. Setiap hari selama 5 hari, kelas diawali pada pukul 07.30 sampai 21.00. Beragam materi kami pelajari di sana. Mulai dari standardisasi penyusunan publikasi, cara scan dokumen SE, firewall, sharepoint, tips and trik mencegah dan menangani serangan web, sampai diajarin KOFAX (bagaimana membuat aplikasi tanpa coding, jadi drag and drop aja). Ya walau letih dan pusing menghampiri, tetep senang yang lebih mendominasi ๐Ÿ˜€

Acara semacam bimtek ini juga dijadikan ajang reuni alumni STIS yang telah menyebar ke seluruh pelosok negeri. Kapan lagi kan bisa ketemu teman sengkatan yang ditempatkan di pulau nun jauh di sana. Alumni dari berbagai angkatan hadir dalam bimtek ini mewakili daerah pengabdiannya masing-masing. Mulailah foto-foto ramai di timeline berbagai media sosial. Bahkan ada pula yang dadakan membuat grup hanya demi bisa mengumpulkan teman seangkatan untuk diajak foto bersama, the power of solidarity and narsis-ity wkwkwk..

IMG_8893

IMG_9093

PAHAWANG UNLOCKED

Udah sekian bulan tinggal di Lampung tapi belum ngrasain pesona lautnya. Pas banget lagi butuh piknik, ada ajakan ke Pulau Pahawang, pulau yang cukup terkenal bagi para pecinta wisata bawah laut. Emang sesuatu yang direncanakan jauh hari itu cenderung memiliki peluang tidak jadi. Beda sama sesuatu yang nggak perlu lama diwacanakan, langsung disiapkan, dan langsung dilaksanakan, hahaha.

Sebagai pengikut, saya percayakan sepenuhnya semua persiapan kepada yang membuat acara ๐Ÿ˜€ โ€“bukan nggak mau ikut ngurusin lho ya- Jadi ini adalah ide dari adek tingkat sesama penempatan Lampung. Terima kasih banyak adek-adek ๐Ÿ˜€ Starting point telah ditentukan and letโ€™s enjoy the holiday!

Untuk dapat ke Pulau Pahawang, kami terlebih dahulu harus menuju dermaga penyeberangan Ketapang. Nggak jauh-jauh banget kok dermaga itu dari kota Bandar Lampung, dapat ditempuh antara 1,5-2 jam perjalanan. Kalau sudah memasuki kawasan wisata, akan banyak pilihan pantai yang menggiurkan sekaligus membingungkan. Karena semuanya memikat untuk dikunjungi ๐Ÿ˜€ Sesuai tujuan awal, kami pun menuju dermaga penyeberangan Pulau Pahawang.

Sampai dermaga, sudah menanti para pemilik kapal dan persewaan alat selam. Tanpa babibu, kami pun segera berganti kostum, memakai pelampung, tak lupa dengan alat selam dan kaki sirip ikan. Naik kapal dan meluncurlah kita ke Pulau Pahawang. Baru beberapa meter berjalan, si mas nahkoda membalikkan arah kapalnya. Kami pun bingung, mau bertanya tapi suara kami kalah dengan suara mesin kapal. Ternyata oh ternyata tempat bensin (atau oli ya โ€“lupa) kapal yang kami tumpangi bocor. Yaah, mana matahari mulai terik gini lagi. Tapiii semuanya pasti ada hikmahnya, masih untung kan ketauannya deket, coba kalo ketauannya udah di tengah-tengah perjalanan, kan lebih berisiko.

Karena lapar membuat emosi meninggi, akhirnya sambil menunggu diperbaiki, kami santap bekal yang sekiranya mau kami nikmati begitu sampai di Pulau Pahawang, ๐Ÿ˜€ Tak lama selesai kami makan, kapal bisa berlayar lagi, yeay!

Penyeberangan ke Pulau Pahawangnya lumayan lama euy. Ada kali 45 menit an. Tak secepat yang dibayangkan, hehe. Sampai di Pulau Pahawang, kami diajari praktik dasar menyelam. Baru pertama kali pake itu alat selam, saya agak kebingungan. Sudah dipasang tapi waktu belajar masukin kepala ke dalam laut belum bisa ngambil nafas pake mulut. Dicoba eh malah airnya masuk ke alat selamnya, wkwkwk. Ternyata masang alat selamnya masih salah dan kurang kenceng. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya sedikit-sedikit bisa. Yah, emang musti dicoba, kalo nggak nyoba kapan bisanya kan?

Ketika udah sukses make alat selam kami diajak ke tengah laut, maunya sih di pinggiran aja, lah mau ngeliat batu apa karang neng? Yaa, batu karang pak, hahaha ngeles teteup ๐Ÿ™‚ Ke tengah laut pikirannya negatif aja kan, gimana kalo tiba-tiba kamu nggak bisa nafas, trus nggak ada yang nolongin kamu, mau mlipir ke pinggir kayaknya jauuuh banget. Meski saya bisa renang dikit-dikit tetep aja takut ngeliat laut yang dalem gitu. Walhasil setengah jam pertama snorkling itu saya megangin temen saya terus, hahaha lucu kalo ngingetnya. Lama-lama saya coba sendiri ternyata BISA! Asyik aku udah bisa snorkling! Hahaha. Akhirnya bisa ngeliat batu karang, ikan-ikan nemo dengan bebasnya. Subhanallah indah banget, serius!

Nah ini ada beberapa tips buat yang mau snorkling :

  1. Usahakan pagi biar nggak tersengat sinar matahari, pakai sunscreen jangan lupa
  2. Bawa remah-remah roti atau makanan yang ikan suka, dijamin ikannya bakal ngumpul, kan bagus buat difoto ๐Ÿ˜€
  3. Pake pakaian yang agak tebal untuk melindungi kulit. Pengalaman kemarin beberapa hari setelah snorkling muncul bercak-bercak merah di kulit yang lumayan lama ilangnya, kemungkinan kena karang atau hewan laut lainnya
  4. Nggak mau melewatkan momen snorkling begitu saja kan? Pasti mau diabadikan ya kan? Jangan lupa bawa kamera underwater, ada sih persewaan di sini tapi mahal. Kalo pun nggak punya kamera, tinggal bawa pelindung hape underwater. Kemarin kami juga hanya bermodalkan pelindung hape itu tapi hasilnya lumayan kok.
  5. Snorkling itu menguras energi jadi upayakan bawa bekal yang cukup.

20151010_092222[1]

IMG-20151010-WA0011[1]

20151010_135140[1]

Catatan Perjalanan Malang part 5 – Segara Anakan

Segara Anakan, Laguna di Tepian Samudra :’)

Hari ketiga di Malang akan kami isi dengan menjelajah pulau Sempu. Mungkin ada sebagian yang mengernyitkan dahi ketika disebutkan nama pulau itu. Saya pun demikian ketika mendengarnya untuk pertama kali. Pulau Sempu itu letaknya di ujung selatan kota Malang, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Pulau Sempu, ujung selatan Malang

Pulau Sempu, ujung selatan Malang

Pak sopir telah datang menjemput kami di penginapan sejak pukul 05.30 WIB. Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju pantai Sendang Biru (lokasi penyeberangan ke pulau Sempu). Butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan dari penginapan ke pantai ini.

Sampai di Sendang Biru, kami dianjurkan sarapan terlebih dahulu karena treking pulau Sempu ini memerlukan energi yang banyak. Ada banyak warung di sekitar Sendang Biru tapi kalo tidak salah hanya ada satu warung yang menjual makan besar. Kami sarapan di warung tersebut dengan menu yang belum lengkap karena beberapa sayur dan lauk sedang proses dimasak.

Tak lupa kami membeli bekal berupa 3 botol besar air mineral dan roti. Selesai sarapan kami menuju tempat penyewaan sepatu. Jadi saat treking pulau Sempu ini, sangat disarankan memakai sepatu khusus (sepatu anti licin) yang disewakan oleh warga sekitar. Kita harus memilih nomor yang pas agar tidak terjebak lumpur saat perjalanan. Harga sewa sepatunya cukup murah, 10 ribu. Saat perjalanan ke pulau Sempu, kami hanya boleh membawa barang-barang seperlunya saja, misal kamera dan bekal. Takutnya kalo kita kebanyakan membawa barang, bebannya semakin berat.

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 4 – BNS (Batu Night Spectacular)

Penginapan yang dipesan letaknya cukup dekat dengan objek wisata BNS (Batu Night Spectacular), begitu yang kami tau dari info di internet. Tapi nyatanya begitu mengikuti ibu pemilik penginapan yang menjemput kami di depan BNS, kami merasa nggak sampai-sampai di rumahnya :3 Mungkin menurut pemilik penginapan itu deket, tapi bagi kami harus berpikir ulang dengan rencana berjalan kaki ke BNS. Hadeuh..

Kekurangnyamanan itu seketika lenyap begitu kami tiba dan memasuki rumah tempat kami akan menginap. Penginapan yang lebih tepat disebut homestay ini menyajikan berbagai fasilitas. Diantaranya, halaman yang luas, ruang tamu, ruang santai dengan TV 20โ€™ , kamar mandi dengan air hangat, 2 ekstra bed dalam 2 kamar, air panas dengan gula, kopi, dan teh, serta dapur (lengkap dengan peralatannya) yang dapat kami gunakan jika ingin memasak. Kok jadi berasa ngiklan ya? hehe. Nyaman banget pokoknya ๐Ÿ˜€

Karena jumlah kami ganjil, makanya ada 1 kamar yang diisi 3 orang dan kamar yang satunya lagi diisi 4 orang. Pembagian ini nggak menyinggung โ€˜ituโ€™ lho ya, serius! Atau ntah naluri kami yang menggiring masing-masing dari kami, kamar mana yang pas untuk saya? Haha, bercanda :p

Kamar mandi hanya ada satu. Kembali kami gambreng untuk menentukan urutan. Kali ini komplet yang gambreng, hehe. Sore menjelang, perut lagi-lagi lapar (faktor dingin juga) ๐Ÿ˜€ Tak ingin menyia-nyiakan fasilitas yang sudah disediakan, kami menanak beras yang kami bawa dari rumah denganย magic comย pinjaman dari ibu rumah. Selain itu, kami juga merebus mie instan di dapur. Selang beberapa menit, nasi dan mie rebus siap disantap :9

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 3 – Gunung Bromo

20 November 2013

Suara alarm bersahut-sahutan, berlomba membangunkan kami. Bergantian kami ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi sekadar menghilangkan rasa kantuk yang masih melekat. Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Kami segera mengenakan berlapis-lapis pakaian hangat. Tak lupa juga memakai sarung tangan, kaos kaki, syal, masker. Apapun yang bisa membuat badan kami hangat.

Sebelum bolang ke Malang ini terlaksana, kami telah memesan sebuah mobil travel yang akan mengantarkan kami menuju Bromo. Mobil itu kami sewa selama 2 hari agar dapat pula mengantarkan ke kota Batu Malang esok hari. Mbak Fifi berkata untuk mempercepat persiapan karena sang sopir (yang bahkan sampai pulang, kami tak tau namanya, maaf Pak ^/\^, atau hanya saya yang nggak tau namanya?) sudah menunggu di depan. Karena rencananya kami akan kembali ke rumah Dita, kami hanya membawa barang-barang seperlunya saja. Semula Dita juga akan ikut ke Bromo tapi karena tidak mendapat izin dari orang tuanya akhirnya dia tidak jadi ikut.

Setelah semuanya siap, kami segera menaiki mobil Avanza tersebut. Pas sekali tempat duduknya untuk kami bertujuh. Sesuai rencana awal, mobil pun mulai berjalan ke arah pos pendakian Poncokusumo. Sekadar info, untuk bisa ke Bromo ada banyak pos yang bisa dipilih dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 3 pos yang paling banyak dipilih oleh wisatawan adalah Poncokusumo (Malang), Tosari (Pasuruan), dan Cemorolawang (Probolinggo). Dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dengan tempat kami menginap, kami memilih lewat Poncokusumo.

Nah, di sinilah terjadi suatu insiden di luar dugaan. Bermula saat pak sopir menanyakan apakah kami sudah memesan jeep yang bisa mengantarkan kami ke penanjakan (tempat melihat sunrise). Ternyata kami salah informasi. Kami mengira mobil ini bisa mengantarkan sampai ke penanjakan. Dari pak sopir kami tahu bahwa saat ini hanya mobil jeep yang diperbolehkan ke penanjakan, katanya untuk pemerataan pendapatan warga di sana. Mendengar jawaban kami yang belum mempersiapkan jeep membuat pak sopir menghentikan laju kendaraannya. Pak sopir itu juga ikut-ikutan bingung. Takutnya kalo kami mencari jeepย on the spotย (setelah sampai di pos), harga yang diberikan di atas harga pada umumnya.

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 2 – Candi Jago

Selesai bersih-bersih dan sholat dzuhur, kami berencana mencari makan siang. Untuk itu kami keluar menuju pasar Tumpang yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah Dita. Kami masuk ke warung bakso. Dingin-dingin gini enaknya emang makan bakso :9. Walaupun siang-siang tapi cuaca di daerah ini memang dingin. Bakso yang dijual di sini beda karena ada lontongnya. Jadi bisa lebih kenyang deh.

Setelah makan bakso, Dita mengajak kami mengunjungi candi Jago yang lagi-lagi letaknya tak terlalu jauh sehingga kami bisa ke sana hanya dengan berjalan kaki. Hebatnya lagi masuk ke candi ini free alias gratis. Sayangnya bangunan candi ini nampak sudah tidak utuh lagi. Pemandangan terlihat lebih cantik dengan adanya taman yang menghiasi sekeliling bangunan candi ini.

Image

Candi Jago

Continue reading

Catatan Perjalanan Malang part 1

Yeay! Agenda pascawisuda yang telah direncanakan jauh hari akhirnya terlaksana juga. Berawal dari ajakan seorang teman (lupa siapa pemrakarsa pertama), ditambah libur panjang setelah resmi menyandang gelar sarjana sains terapan (Alhamdulillaah :D), dan lagi maraknya berbagai status dan dokumentasi wisata dari kawan seperjuangan, semakin membangkitkan keinginan kami untuk segera merealisasikan agenda tersebut.

Bolang Malang ini semula beranggotakan 11 orang, tapi semakin mendekati hari H jumlahnya semakin berkurang, ๐Ÿ˜ฆ Alhasil yang fix berangkat ada 7 orang, Dina, Fifi, Anin, Puput a.k.a Bundo, Arum, Ria, dan Shelfia. Perjalanan ke Malang akan kami tempuh dengan kereta api Matarmaja. Karena di Magelang stasiunnya udah nggak ada, kami berempat yang berasal dari Magelang harus ke stasiun Semarang Poncol. Sebenarnya bisa juga naik dari stasiun Solo Jebres. Karena pertimbangan waktu kedatangan kereta di stasiun Solo Jebres tengah malam, maka kami lebih memilih lewat Semarang Poncol. Selain itu, dengan waktu tiba yang lebih cepat, kami juga bisa memaksimalkan waktu untuk tidur di kereta, hehe.

Sore itu tanggal 18 November 2013 kami berempat , Dina, Fifi, Anin, dan Puput berkumpul di terminal Tidar Magelang. Terdengar teriakan kondektur mencari penumpang tujuan Semarang. Tanpa pikir panjang kami pun menuju bus Suka Makmur (klo ga salah inget) tersebut.

Sekitar pukul 16.30 WIB bus yang kami tumpangi bergerak meninggalkan terminal paling terkenal di kota ini. Berbekal secarik informasi dari adek teman saya, (terima kasih banyak buat dek Indri, adeknya Dita ^^) kami berangkat menuju Semarang. Dari informasi dek Indri, kami disarankan turun di daerah Sukun, daerah mana itu saya juga masih asing, mendengarnya saja baru pertama kali :3. Alhamdulillaah di dalam bus bertemu dengan seorang ibu yang sangat baik hati. Ibu itu dengan antusias dan sabar menerangkan kendaraan apa yang bisa kami tumpangi dari Sukun ke Stasiun Poncol. Kebetulan ibu itu juga turun di Sukun jadi kami benar-benar terbantu. Bahkan setelah kami turun di Sukun, ibu itu sempat menunggu kami mendapatkan bus yang akan kami tumpangi. Tetapi karena gerimis tiba-tiba datang, ibu itu mohon pamit pulang duluan. Ya, gak pa pa kok bu, kami sangat berterima kasih dengan kemuliaan hati ibu ^_^

Continue reading