Baca Sebelum Bertanya

Iseng explore instagram, nemu buku yang menarik pandang. Merasa tertarik, saya cari taulah buku itu. Sampai di satu post yang mengabarkan bahwa buku tersebut sedang open PO (preorder). Inti dari saya menge-post tulisan ini sebenernya bukan itu. Yang membuat saya tergelitik yakni ketika secara sengaja saya membaca komentar dari post foto instagram tadi, dengan tujuan mendapat info atau testimoni tentang buku tersebut. Dan saya menemukan satu komentar yang membuat saya geregetan membacanya. Satu kalimat singkat, “Harganya berapa ya kak?” Hmmmmm…

Padahal ya dalam post foto tersebut sudah terpampang nyata angka dalam rupiah yang menunjukkan harga dari buku itu. Sepele mungkin bagi sebagian orang, tapi kok saya ngerasa geregetan sekali? Gimana  sama admin yang baca komentar itu ya? Terpujilah para admin berbagai olshop yang dengan setia menjawab pertanyaan calon customer-nya dengan sangat sabar dan sopan, dari yang serius mau beli, iseng nanya-nanya, sampai pertanyaan remeh-remeh kurang berguna.

Budaya membaca sebelum bertanya inilah yang nampaknya mulai dilupakan sebagian orang. Mereka sudah terlanjur malas untuk sekadar mencari tau terlebih dahulu. Meskipun informasi tersebut sudah terpampang di depan mereka tapi orang-orang lebih cenderung langsung bertanya. Dengan harapan dapat jawaban cepat padahal belum tentu seperti yang mereka harapkan.

Sama kasusnya dengan email juga grup Whatsapp. Mungkin karena saking sibuknya jadi nggak sempat bukain email satu-satu. Apalagi email kantor yang isinya campuran dari berbagai seksi. Begitu lagi perlu malas nyariin satu-satu, nanya lah. Jawaban pertanyaan nggak sesuai dengan yang diinginkan, yang ditanya juga masih sibuk dengan urusan yang lain. Padahal kalo mau nyari, semua term and condition, manual, daftar permasalahan beserta penyelesaian, ada semua secara rinci di email yang dikirim entah sejak kapan. Yang ini pengalaman pribadi sebenernya, hahaha.

Jadi marilah mengembalikan kebiasaan membaca sebelum bertanya. Kita lega orang lain juga suka, tanpa perlu banyak tanya.

Tilang

Bapak, aku tadi kena tilang..

Kurang sedekah kamu mbak..

Satu kalimat dari bapak yang buat speechless untuk sekian detik kemudian. Jawaban di luar ekspektasi. Berharap respon, kok bisa? Dimana kena tilangnya? Sidang apa bayar di tempat? Diminta bayar berapa? Ya, walau pada akhirnya respon yang diharapkan itu ditanyakan juga.

Lalu saya coba ingat-ingat, kapan terakhir kali saya sedekah? Nampaknya sudah lama sekali sampai saya tak bisa mengingatnya. Sedekah itu memang harus diagendakan. Bukan melakukan ketika ada kesempatan, tapi mencari kesempatan untuk melakukan.

Ah, bapak… Jadi rindu…

Ephemera

Terima kasih untuk kisah -tanpa tatap apalagi temu- yang pernah berjalan. Atas semangat yang pernah menyublim dalam langkah. Juga untuk inspirasi yang teramat besar yang aku tak tahu cara kerjanya.

Entah bagaimana cerita ini akan berlanjut, untuk kali ini, aku tidak berani berharap apa-apa. Biar Tuhan yang menulis. Karena berharap pada manusia hanya akan membuat kecewa.

-Ahimsa Azaleav

Kebetulan-kebetulan

Kebetulan-kebetulan yang kamu rasakan lantas kamu sanding-sandingkan dengan keadaan dan pemikiran sekarang. Hingga kamu sampai pada satu kesimpulan, bahwa benar dia adalah takdir yang Tuhan kirimkan.

Hello??

Kita tak akan pernah tau seseorang yang Tuhan berikan sebagai teman dalam perjalanan kehidupan, sampai janji suci itu benar-benar diucapkan.

Lantas, seberapa besar kita boleh berharap? Sebesar kapasitas hati kita untuk menampung rasa kecewa.

Oleh-oleh Lebaran

Ada yang sudah menemukan kekasih halalnya, juga sudah diamanahi titipan buah hati olehNya, sayangnya keduanya belum punya pekerjaan yang menjanjikan tercukupi kebutuhan. Lalu orang berkomentar, gimana mau ngebeliin susu anak, harusnya itu nyari kerja mapan dulu baru nikah, buru-buru sih..

Ada yang sudah dipertemukan dengan belahan jiwa, keduanya sama-sama sudah mapan, sayangnya sudah 10 tahun berumah tangga belum juga diamanahi buah cinta. Lalu orang berkomentar, mau buat apa hartanya kalo nggak punya anak, percuma juga kerja ngoyo siang malam..

Ada yang sudah berumah tangga, punya anak tak butuh waktu lama, dua duanya juga punya penghasilan yang cukup, sayang karena pekerjaan keduanya harus tinggal di dua pulau yang berbeda, ratusan kilometer jaraknya. Lalu orang berkomentar, kasian ya gajinya abis cuma buat ketemuan doang, lamanya ketemuan juga nggak sebanding sama mahalnya tiket pesawat..

Ada yang lagi galau gundah gulana. Teman seangkatannya sudah berlomba-lomba menyebarkan undangan. Orang tuanya sudah bertanya-tanya kapan naik pelaminan. Saudara-saudaranya sudah menyindir-nyindir kapan bikin seragaman.

SEE??

Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Setiap orang punya kegelisahannya sendiri-sendiri. Hanya yang senantiasa percaya rencanaNya yang terbaik, hanya yang senantiasa tak ambil hati dengan komentar negatif orang-orang, hanya yang senantiasa bersabar dengan segala permasalahan kehidupan, yang akan mampu menjalani setiap inci dalam hidupnya dengan senyuman keikhlasan. MENANGKAN! ^_^

Tunggulah

Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya, kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu, kan?

Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu. Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.

Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, menahan diri, dan mengisi waktu dengan hal-hal baik selama menunggu.

Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.

Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

-Kurniawan Gunadi

Tentang Menyampaikan

Suatu ketika ada yang nanya sama kita, kalo begini gak papa kan ya? Sepengetahuan dan sepemahaman kita itu adalah persoalan yang salah. Pas disampein ke si penanya, kata ‘si itu’ boleh lho. Duh, ‘si itu’ seperguruan sama kita lagi. Yang seperguruan saja belum tentu punya pemahaman yang sama apalagi yang lain perguruan.

Nah di sinilah tugas kita ngebenerin yang salah, ngelurusin yang bengkok. The art of ngebenerin or ngelurusin tanpa menjudge pemahaman-yang-masih-salah-nya orang lain. Bukan karena si itu salah lantas kita mengumpat dengan seenaknya. Ada cara-cara terpuji yang tentu tak kita dapat saat pendidikan formal kemarin dulu. Menyampaikan kebenaran tanpa kesan menggurui. Menyampaikan kebenaran dengan kebaikan setulus hati.