kadar kecukupan

Kisah seorang perempuan kerja, punya penghasilan sendiri, masih single lagi. Namanya perempuan, pengin beli ini itu. Walau sudah punya cukup baju, cukup sepatu, tetap aja pengin yang baru. Apalagi online shop saat ini sudah menjamur bak payung warna warni kala musim penghujan. Tinggal buka hape, scroll sana sini, masukin keranjang belanja, transfer via e-banking, beberapa hari kemudian barang datang. Perempuan dimanjakan dengan segala kemudahan, gimana nggak bikin ketagihan?

Pergolakan batin perempuan itu pun dimulai.
Mumpung masih single dinikmatin hasil kerjanya, someone said.
Iya, bisa-bisa uangnya jamuran di tabungan, another one said.

Beruntungnya perempuan itu dibesarkan dengan sangat penuh kehati-hatian oleh orang tuanya. Otomatis sifat itu terus melekat dalam dirinya. Bisa menahan meskipun dengan kepayahan.

Hidup itu jangan berlebihan, begitu nasihat yang ia terima. Kalau mau beli sesuatu dipertimbangkan masak-masak, apakah itu sebuah kebutuhan atau hanya sekadar keinginan? Mungkin bagi sebagian orang hal-hal seperti itu bisa disalahartikan, sampai-sampai dibilang terlalu perhitungan. Ya terserahlah ya apa kata orang. Yang paling tau kebutuhan kita kan emang kita sendiri.

Sekarang saat anak perempuannya telah cukup dewasa, punya penghasilan sendiri, nasihat itu pun tetap sama. Intinya boleh saja menikmati hasil kerja keras selama ini, tapi jangan pula sampai berlebih-lebihan. Ada kadar kecukupan yang harus kita pegang. Ada pula hak orang lain yang perlu kita tunaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s