Kembali

Malam 27 Ramadhan. H minus 3 lebaran. Sudah gembira bukan kepalang karena mau pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua, saudara, kawan, dan handai taulan. Ternyata Allah menakdirkanmu pulang ke sebenar-benarnya kampung halaman.

Selamat jalan sahabat terbaik. Ada banyak orang mendoakanmu dari sini. Semoga kesaksian kami bahwa kamu orang baik membantu melapangkan tempat istirahat terakhirmu. Kami semua sayang kamu. Ah masih sedih sebenernya tapi kami yakin Allah lebih sayang padamu.

Bahwa hidup sejatinya hanya pergantian pagi petang, datang pergi, sedih bahagia, perjumpaan dan perpisahan. Cukuplah kematian sebagai pengingat.

01 Juli 2016

 

Tunggulah

Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya, kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu, kan?

Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu. Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.

Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, menahan diri, dan mengisi waktu dengan hal-hal baik selama menunggu.

Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.

Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

-Kurniawan Gunadi

Selamat Berbahagia

Kayaknya baru kemarin kita foto ala ala di rumahmu. Waktu cepat berlalu, setelah kurang lebih 9 tahun akhirnya aku berkunjung lagi ke rumahmu. Kali ini aku bela-belain datang dari pulau seberang demi menyaksikan prosesi sakral itu.

SAH.

Nggak nyangka ya diantara kita berempat kamu yang ganti kode duluan. Selamat berbahagia Mentari 🙂 Semoga pernikahanmu selalu dalam keberkahan. Kebahagiaan ini terasa kurang lengkap karena salah satu diantara kita ada yang berhalangan hadir. Kesel sebenernya tapi ya sudahlah, karena yang berhalangan hadir itu juga sedang menyambut bahagianya di sana.

Sekali lagi selamat berbahagia, semoga kita-kita cepet nyusul.. 😀 😀

P_20160515_083233.jpg

P_20160515_133710

IMG-20160516-WA0020

Tentang Menyampaikan

Suatu ketika ada yang nanya sama kita, kalo begini gak papa kan ya? Sepengetahuan dan sepemahaman kita itu adalah persoalan yang salah. Pas disampein ke si penanya, kata ‘si itu’ boleh lho. Duh, ‘si itu’ seperguruan sama kita lagi. Yang seperguruan saja belum tentu punya pemahaman yang sama apalagi yang lain perguruan.

Nah di sinilah tugas kita ngebenerin yang salah, ngelurusin yang bengkok. The art of ngebenerin or ngelurusin tanpa menjudge pemahaman-yang-masih-salah-nya orang lain. Bukan karena si itu salah lantas kita mengumpat dengan seenaknya. Ada cara-cara terpuji yang tentu tak kita dapat saat pendidikan formal kemarin dulu. Menyampaikan kebenaran tanpa kesan menggurui. Menyampaikan kebenaran dengan kebaikan setulus hati.

kadar kecukupan

Kisah seorang perempuan kerja, punya penghasilan sendiri, masih single lagi. Namanya perempuan, pengin beli ini itu. Walau sudah punya cukup baju, cukup sepatu, tetap aja pengin yang baru. Apalagi online shop saat ini sudah menjamur bak payung warna warni kala musim penghujan. Tinggal buka hape, scroll sana sini, masukin keranjang belanja, transfer via e-banking, beberapa hari kemudian barang datang. Perempuan dimanjakan dengan segala kemudahan, gimana nggak bikin ketagihan?

Pergolakan batin perempuan itu pun dimulai.
Mumpung masih single dinikmatin hasil kerjanya, someone said.
Iya, bisa-bisa uangnya jamuran di tabungan, another one said.

Beruntungnya perempuan itu dibesarkan dengan sangat penuh kehati-hatian oleh orang tuanya. Otomatis sifat itu terus melekat dalam dirinya. Bisa menahan meskipun dengan kepayahan.

Hidup itu jangan berlebihan, begitu nasihat yang ia terima. Kalau mau beli sesuatu dipertimbangkan masak-masak, apakah itu sebuah kebutuhan atau hanya sekadar keinginan? Mungkin bagi sebagian orang hal-hal seperti itu bisa disalahartikan, sampai-sampai dibilang terlalu perhitungan. Ya terserahlah ya apa kata orang. Yang paling tau kebutuhan kita kan emang kita sendiri.

Sekarang saat anak perempuannya telah cukup dewasa, punya penghasilan sendiri, nasihat itu pun tetap sama. Intinya boleh saja menikmati hasil kerja keras selama ini, tapi jangan pula sampai berlebih-lebihan. Ada kadar kecukupan yang harus kita pegang. Ada pula hak orang lain yang perlu kita tunaikan.

Tamu

Semenguras-ngurasnya perasaan, kita tetep harus memberikan pelayanan prima ke pengunjung kan?

Chief : Din, ini ada yang minta softcopy publikasi. Tolong dicopykan trus bawa ke atas ya?

Saya : Baik Bu.

Belum selesai burn publikasi ke dvd, hape berdering lagi

Chief : Din, kan kita minta data juga ke instansi bapak ini. Udah dapat belum datanya?

Saya : Sudah Bu, cuma kemarin ke instansi X katanya data A adanya di instansi bapak itu Bu.

Chief : yaudah nanti kamu sekalian minta yang belum ada itu. Mumpung bapaknya di sini

Saya : Ya Bu, saya print kan lagi tabel yang harus diisi.

Naik tangga ke lantai dua

Saya : Ini Pak publikasinya (nyerahin dvd) sama ini tabel yang masih kurang, minta tolong nanti diisi (nyodorin kertas)

Tamu : (ngeliat kertas, mikir bentar) lho ini datanya ada di instansi X mb..

Saya : kemarin sudah ke instansi X katanya untuk klasifikasi ini datanya ada di instansi bapak. Kalo klasifikasi yang lain ada di sana dan sudah kami terima datanya Pak.

Tamu : tapi kita dapat data dari instansi X itu lho mba..

Chief : lah gimana Pak malah lempar lemparan..

Tamu : yaudah nanti saya tanya ke bagian bla bla bla dulu

Chief : nah gitu dong Pak kami tunggu lho ya

Tamu : tapi ini tabelnya klasifikasi yang diminta aja dong, masak ada tabel yang udah diisi dari instansi lain juga. Sama sumbernya ini diganti sama instansi saya..

Chief : Dina tolong diprintkan lagi tabel klasifikasi yang diminta aja sama sumbernya diganti

Saya : baik Bu

Turun tangga

Saya pun ngedit tabel yang tadi. Saya print trus naik tangga ke lantai dua.

Saya : ini Pak, Bu sudah saya perbaiki

Chief : tolong tanyain seksi bla bla bla katanya mereka juga minta data ke instansi bapak ini

Saya nemuin kasie yang dimaksud. Setelah nerima dokumen saya kembali ke ruangan ibu kepala.

Saya : (menyerahkan dokumen)

Chief : ini Pak dokumen yang ini juga belum masuk ke kantor kami.

Tamu : (ngeliat-liat dokumen) ini masak keterangan tempatnya kota sebelah. Copas yaaa..

Chief : (ngecek dokumen) oh iya, din panggilin bu R (kasie yang ngasih dokumen tadi)

Saya : bu R nya lagi ketemu sama petugas sensus Bu

Chief : yaudah kamu tolong perbaiki ini

Saya : (mulai panas) Iya Bu -Baca selengkapnya->